Boleh,,, jangankan ke Mekah, ke Kutub Utarapun aku mau,,, mumpung bernafas …

– coretan di siang hari-

Hem hem… akhirnyaaa,, aku kembali menulis. Yupp, menulis. Ini berkat seseorang. Hihihi,,, sebelumnya berasanya beraaat banget, butek (bahasa mana ya, butek itu, lupa…). Emm,, tapi ngga juga, kalo butek itu berarti memang tidak ada inspirasi sama sekali. Kalo ini aku sudah sering bawa-bawa buku-buku yang di dalamnya ingin ku bagi dengan temen-temen semua. Tapi itu, feel untuk menulis kembali yang belum dapet. Jadi buku-buku itu hanya kubaca, kusisipkan pembatas, dan kuletakkan kembali di atas meja ruang tengah.

Kata-kata yang diatas itu kukutip dari sms seseorang, yang sampai saat ini aku mengenalinya sebagai sosok yang ceria. Suka ketawa, truus ketawanya kenceeeng bgt hihihi.  Pernah sih, beliau bilang, kalau beliau bisa membuatku menulis kembali. Hemm,, ternyata benar!!! Aku jadi ingin menulis kembali ketika ia mengirimkan sederet kata itu.

”Boleh,,, jangankan ke Mekah, ke Kutub Utarapun aku mau,,, mumpung bernafas …”

A big Journey yang akan kukejar (mekah, even kutub utara, dan semua mimpi-mimpiku yang lain) yang membuatku untuk selalu bersyukur bahwa aku masih diberikan nafas. Yup. Nafas adalah kehidupan. Aku masih selalu lupa, bahwa hidup itu MAJU. Peristiwa-peristiwa besar yang telah kualami tahun kemaren (semenjak blog ini mulai mati suri) sangat besar, bahkan terlalu besar untuk bisa dibandingkan dengan teman-teman sebayaku yang lain. Mempengaruhiku? Ooh jelas,, sangat berpengaruh. Waktu mengubahku sedikit demi sedikit menjadi seseorang yang baru, bahkan ketika tak sengaja siluetku terpantul di cermin hari ini, aku hampir-hampir tidak mengenalinya. Waktu mengubahku dengan begitu cepat. Bahkan sangat cepat. Aku sudah sangaaat berubah menjadi bentukan yang Allah mau atas pilihan-pilihan hidupku.

Ketika aku hanya bisa melihat awan putih di atas dari jendela mobil, aku mencobanya untuk tetap menuliskan mimpi-mimpiku disana yang kutahu,,, akan tertunda untuk waktu yang belum tau berapa lama. Aneh yah, biasanya kalo orang menggantungkan mimpi itu sambil melihat bintang. Kan ada tuh bunyinya ”Tembaklah Bintang, setidaknya meskipun meleset kau masih mendapatkan bulan”. Tapi aku sengaja menuliskan mimpiku pada langit siang. Karena itu berarti, aku harus menggapainya saat aku dalah keadaan bangun, bukan tidur.

Sewaktu penerbangan terakhirku November tahun lalu, saat pandanganku melewati sebuah jendela pesawat, aku baru sadar aku telah sejajar dengan awan, dan melihat langit dalam keadaan kosong. Wuihh,,, aku sudah sejajar dengan tempat dimana aku menuliskan mimpiku dari bawah sana🙂 . Kalau aku sudah bisa sejajar dengan tempat aku menulis mimpiku, mungkin gak ya, nantipun aku akan sejajar dengan tempat dimana aku menuntaskan mimpiku yang terakhir. Hihihi😀.. Aamiin..

Kalau aku bersama Allah, siapa lagi yang bisa menghentikan?

Cukuplah Allah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Dan hanya kepada-Nya saja aku berharap dan memohon pertolongan…

Osh!! Hoho. Mulai mengeluarkan kertas dan tinta kembali.

For someone: janji ya, 2 tahun lagi bakalan jalan-jalan di singapur hihihi😛

9 thoughts on “Boleh,,, jangankan ke Mekah, ke Kutub Utarapun aku mau,,, mumpung bernafas …

  1. Mungkin saja.. Jadi inget tulisan asma nadia.. Beliau pengen bgt keliling dunia.. Seakan itu mimpi.. Tp mimpi itu ia visual kan dalam bentuk souvenir kecil yg dtempelkan dpintu lemari pendingin.. Yup, cinderamata yg mencirikan negara2 didunia.. Walau bukan asli dari negara asal.. Tp seiring berjalannya waktu, mimpi it menerobos alam bawah sadar yg menggerakkan raga tuk mewujudkannx jd kenyataan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s