Kita Sudah Sangat Dekat Dengan Langit

HL004690

Jakarta-Bengkulu hanya ditempuh dalam waktu 55 Menit saja,

Pesawat landing jam 10.00 wib. Aku mencoba merapihkan kembali barang bawaanku. Tas ransel laptop, tas pinggang, dan tas kecil untuk isi baju. Cuma sedikit sih, barang bawaannya, tapi berat!! fiuh.. ngebawa laptop en berkas-berkas habis daftar sidang (kok sempet-sempetnya dibawa), buku Antenna Theory and Design Ballanis 500 hal, baju 2 stel, dan beberapa barang elektronik. Maksudnya sih kemaren pulang memang pengennya refreshing dikit, tapi memang sudah kebiasaan sih meskipun refresing pasti selalu ada kekhawatiran yang terjadi. Siapa tahu aja kan ada perlu sama buku2 en ni berkas2… hoho,,, Bandung Bengkulu jauh jeng,,, males bett ngambilnya…

Eniwey, yang jelas kemaren memang berasa kayak orang mau trafeling aja, padahal judulnyasih tetep mudik.

Setelah masuk pesawat Sriwijaya Air, memasukkan tas ke bagian atas kabin, kebagian tempat duduk di dekat jendela, di 17 F deket sayap pesawat. Biasa, ritual sebelum naik kendaraan, Islam sudah mengajariku banyak referensi untuk dibaca ketika sedang bepergian. So, sambil memasang savety belt aku komat kamit membaca doa-doa yang sudah kuhapal di luar kepala.

Ini memang bukan perjalananku yang pertama. Hampir semua maskapai penerbangan (yang ada penerbangan ke Bengkulunya) pernah kucoba, entah itu Merpati, Batavia, Lion Air, ataupun Mandala. Tapi, ketika pesawat take off (yang kesekian kalinya) perasaan itu selalu muncul dalam wujud yang sama. Bedanya, perasaan ini lebih kuat. Entahlah, mungkin karena sekarang judul ku untuk pulang adalah ingin melihat mama papah dulu sebelum Insya Allah mengakhiri masa studiku di IT Telkom.

Ketika pesawat Take Off (setelah beberapa menit mengantri boarding, di depan ada Air Asia, trus depannya lagi kalo gasalah Lion Air) begitu cepatnya pesawat ini mencapai awan. Yang dibawah cuma terlihat seperti sebuah miniatur kota. Bandara, sungai ciliwung, tol, taman kota hanya terlihat seperti titik yang makin menjauh, membaur bersama yang lainnya.

Kemudian aku melihat awan putih, ada yang diam, dan ada juga yang bergerak.Aku ingin pegang, tapi ngga mungkin lah ya,, gmana cara…

Pesawat terus melaju tinggi, hampir menuju lapisan kedua atmosfer. Lapisan dimana keadaan cuaca hanya memiliki sedikit pengaruh dan bagus untuk navigasi. Pesawat terus melaju, sampai dimana aku melihat hanya cakrawala yang biru, dibawahnya tertumpuk awan-awan putih. Seperti Berjalan diatas Awan.

Langit,,,

akhirnya aku sampai, meskipun ini hanya langit yang masih dekat dengan dunia. Tempat dimana mataku hanya mampu melihat garis lengkung biru sebagai batas pandang. Bukan tanah, bukan sebuah gunung, bukan tembok rumah kost, bukan pagar rumah susun, bukan sesuatu yang sering kulihat di bawah sana. Tapi hanya warna biru, yang mau dari sudut manapun aku mencoba untuk melihatnya hanya menghasilkan warna biru.

Biru dan Putih…

Sesungguhnya Akhirat itu Luas… (Tadzkiyatun Nafsh :Said Hawa ,)

Beginikah rasanya akhirat itu? Ketika aku memandang dari balik jendela kamar aku hanya melihat pelepah pisang dan tembok proyekan kost milik dosen yang menjulang.

Beginikah rasanya akhirat itu? Ketika aku daftar sidang, hampir saja aku tidak dapat ruangan. Ruang sidang hanya 4. Awalnya aku mau daftar tanggal 26 jam 3 sore, tapi penuh. Akhirnya dipindah ke 3 Maret dengan jam yang sama. Kemungkinannya hanya dua, dapet jatah atau tidak. Rebutan tempat.

Beginikah rasanya akhirat itu? Halaman rumah hampir tidak ada, gang hanya muat motor, itupun sudah bisa bikin tetangga pada ngamuk kalau sedikit saja nge-gas di malam hari. Kamar hanya 2×3. Beruntung aku masih diberi kemudahan untuk mengakses kamar mandi (kamar mandi dalem sih hehe), en Alhamdulillah masih banyak air. Lah, kalo di daerah PGA sono,, susah dapet air, dapetpun kadang kotor. Pernah sampe bela-belain balik dari PGA ke SKB ujung karena kebelet tapi gada aer. Wuah, menderitaaaa

Beginikah rasanya akhirat itu? Ketika kembali lamunanku tentang apa yang kualami dibawah sana, aku hanya melihat warna biru dan putih. Hanya awan, dan warna biru. Kosong. Tidak kotor, tidak ada debu, tidak ada sampah. Yang ada hanya sunyi, diam, luas.

“Beramallah untuk Akhirat, karena dunia tidak akan pernah memberikan keadilan seadil-adilnya” (Tadzkiyatun Nafsh: Said Hawa)

Kalau saja dunia seluas ini, pasti tidak akan ada yang berteriak mengumpat-ngumpat untuk meminta warga mengungsi karena pelebaran jalan. Kalau saja dunia seluas ini, Pasti tidak akan ada orang yang mengantri parkir di pasar, terutama dayeuhkolot yang sering terdengar berbagai pelanggaran lalulintas.

Kalau saja dunia sesunyi ini, mungkin kita lebih bisa mendengar bisikan Allah ketika ia turun kebumi dibanding suara deruman motor dan winamp atau siaran TV yang tidak dimatikan semalaman.

Kalau saja kita memang langsung menghadap langit tanpa tertutup awan, mungkin kita bisa lebih sadar kita hanya setitik kesibukan diantara besarnya galaksi yang penglihatan kitapun tidak diberi kemampuan untuk bisa memandangnya. Mungkin kesombonganpun akan pudar, kalau kita sadar ketika bumi ini hanya digoncangkan sesaat saja kita tidak punya daya apa-apa untuk melawan. Ketika pintu tidak dapat dibuka, Hanya meringkuk di bawah meja menunggu gempa ini selesai, dan saat itulah kita baru ingat, meminta tolong kepada-Nya dengan sangat tulus.

Mungkin sama juga halnya, ketika aku sekarang, ada di atas awan, di dalam pesawat dengan 40 orang lainnya, begitu dekat dengan langit, hanya bisa berdoa. Kita sudah sangat dekat dengan langit, apa susahnya Allah mematikan mesin pesawat untuk menjemput kita semua. Pesawat tidak bisa ngerem, atau berhenti karena ada mesin yang error, atau kesalahan navigasi arah angin. Pesawat hanya berbekal baling-baling dan navigasi arah angin. Ketika arah angin itu searah dengan pesawat, ia tidak bisa terbang, apalagi masuk ke daerah turbulensi hampa udara, ia akan jatuh. Siapa pemegang kendali arah angin? bahkan kitapun tidak mampu membuat diam semilir angin. Aku hanya bisa berdo’a, dengan sebenar-benarnya pasrah. Disana baru aku merasa, tidak ada daya upaya kekuatan melainkan dari-Nya.

Bengkulu, I’m coming Insya Allah🙂

Naik pesawat, merasakan kepasrahan yang sebenar-benarnya pasrah🙂

buat kamuh2 bagus juga nyoba sekali-kali😀

3 thoughts on “Kita Sudah Sangat Dekat Dengan Langit

  1. Tiada daya dan kekuatan melainkan dari-Nya.
    Aq pernah diatas sana, tu. Malah dengan situasi yang lebih mencekam. Rasa-rasanya hampir mati saja. Kamu sudah baca tulisan “ekspedisi sumatera barat” di blog aq khan, tu?

    Allah.. berikan aq kesempatan untuk merasakan kebesaran-Mu “di atas” sana. Tidak lama lagi.. (Kamu ngerti maksud aq khan, tu?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s