Gelombang Sosial Negeri Ginseng (Korea)

Mengikuti Francis Wahono dkk, jika wajah negara merupakan representasi dari dampak penentuan kebijakan-kebijakan negara, kebijakan bisa saja mendasari perubahan dasar realitas sosial budaya yang nyata, yang dijelaskan dalam uraiannya tentang proses sosial pada “Gelombang Perlawanan Rakyat”. Idealnya, negara dianalogikan menjadi sebuah rumah yang merangkum seluruh kebijakan, dimana ditujukan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan atau ditelurkan dari kondisi realitas sosial masyarakat yang ada. Kebijakan kemiliteran, politik, stabilitas ekonomi dan dampak masuknya pasar modal tercermin dalam pola reaksi masing-masing generasi zaman pada setiap periode tahun negeri Korea (1950-2000). Sisi harapan, optimisme, pesimisme, kepedihan, dan kedewasaan mengambil perannya masing-masing dalam setiap keperiodeannya.
Potret kumpulan cerpen “Laut dan Kupu-Kupu” memberikan gambaran dinamika pola sosial kemasyarakatan Korea yang terus berubah, dari korban akibat kebijakan militer perang sampai zaman pasca perang. Misalnya, dalam “Dua Generasi Teraniaya” tahun 1950 karya Ha Geun Han adanya perekonstruksian ulang mental akibat korban perang, antara fase trauma korban perang (cacat fisik, mental) dan kesadaran untuk terus bertahan hidup pasca perang, seperti kemauan untuk bertahan hidup Jinsu yang kehilangan salah satu kakinya, mencecapi air matanya sendiri yang asin sambil mengikuti bapaknya (yang buntung tangannya) dengan tertatih-tatih. Penerimaan, akan bekas luka dari perang saudara, dan naluri untuk terus bertahan hidup mambuat sang bapak (yang memalingkan mukanya untuk membuang rasa sedih melihat kondisi anaknya yang tidak seperti dulu) alih-alih menggendongnya menyeberangi sungai.
Tahun 1960, Kim Seung Ok menuliskannya kembali dalam cerpen “Seoul Musim Dingin”. Masih terasa pengaruh masa kelam perang dan keinginan untuk untuk meninggalkan bekasnya hanya sebagai kenangan, menuju impian kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Perbedaan antara pemikiran Ahn, seorang tokoh calon master dan tokoh aku tentang sebuah kemajuan Seoul direpresentasikannya dengan sebuah kata “demo” saat mereka membuka topik di sebuah kedai tentang kata “menggeliat”, dan si aku merasa bahwa “menggeliat” itu berarti geliat perut bawah perempuan. Tokoh aku yang bercerita dengan semangat tentang kenang-kenangan, sedih atau gembira terlihat memaksa karena mungkin saja tidak bisa menghapuskan kenangan masa lalu menjadikannya saja sebagai semangat melanjutkan hidup yang diawali dengan penerimaan atas keadaan yang telah terjadi (bersyukur dan berjiwa besar). Kemudian ketika muncul tokoh pemabuk(suami) yang setia terhadap istrinya yang sudah meninggal yang minta ditemani si tokoh aku dan Ahn, untuk menghabiskan uang hasil menjual tubuh istrinya dalam semalam, juga bercerita tentang kepedihan dan kesuraman. Tahun 1960-an tergambar saat-saat mengalami kesulitan yang cukup berarti yang menyebabkan berkurangnya penilaian-penilaian positif dan optimistik.
Lain halnya dengan generasi industrialisasi (1970) tampak dinamika perubahan sosial akibat interpretasi motivasi individual dan kolektif terhadap masalah-masalah sosial yang muncul yang berorientasi pada ekonomi (materi). Pada “Jalan ke Shampo” karya Hwang Sok Yong misalnya, Young Dal harus berbesar hati menerima kenyataan desanya menjadi kawasan industrialisasi.

Namun agaknya, generasi ini telah mampu untuk menggantikan kesuraman masa lalu menjadi materi oriented. Seperti Bae Hwa yang mencari kerja karena saat muda tidak ada tujuan, dan tidak mau menikah karena panggilan kesadaran untuk membantu ayah di kampung, karena ia memiliki adik yang banyak. Kata “saku yang menggembung” dalam cepen” “Bang Kim di Kampung Kami” juga bercerita tentang pemanfaatan lahan, etos kerja, saat istrinya menegur Kim supaya tidak duduk-duduk saja, supaya mengingat tangisan anaknya ketika ia bangun. Nilai yang tetap sama yang terdapat dalam dua cerpen diatas adalah adanya masyarakat yang memilki sensitivitas terhadap kebaikan, seperti pada “Jalan ke Shampo” saat Young Dal memberi dua lembar kumel 500 won kepada Baek Hwa. Mata Baek Hwa berkaca-kaca akan penawaran itu. Atau juga saat Baek Hwa digendong karena tubuhnya lemah oleh Young Dal.
Pada periode 1980-an, terlihat sebuah penekanan yang diberikan lebih pada gerakan masyarakat tertentu sebagai organisasi yang memiliki strategi yang rasional untuk mengubah kondisi-kondisi tertentu, dalam hal ini keadaan ekonomi. Terlihat pada “Dinihari ke Garis Depan” Bang Hyun Suk, ketika keputusan para pekerja untuk tetap maju atau meninggalkan camp perkumpulan para buruh saat perkumpulan pendemo itu dalam kondisi sulit, terutama di musim dingin. Muncul juga jatuh bangun karakter penggerak perjuangan sebagai aktor rasional hak-hak sipil (Civil Rights Movements) pada lembaga-lembaga yang cenderung menindas. Misalnya pada cerpen ini diceritakan lembaga yang menuntut jam kerja sehari, kesehatan yang memburuk, saraf yang semakin tegang dan badan yang letih yang hanya dijagakan dengan kopi instan 130 won akibat dari persaingan tender tidak sebanding dengan penetapan upah pabrik oleh Komite Pengembangan. Jika Gerakan antikomunis di Praha (Prag Spring) mendapat dukungan luas dari kalangan akademisi, gerakan buruh ini hanya bertumpu pada kekuatan mereka. Mungkin ini serupa dengan Gerakan-gerakan Kemasyarakatan Baru (GKB) di Eropa pada akhir tahun 1970-an. Gerakan ini ditandai dengan munculnya ideologi-ideologi kelas sosial yang bersifat mendua (ambiguous). Semua gerakan ini ditafsir sebagai kekuatan Korea yang memajukan demokrasi dan penuntutan kelayakan dalam masyarakat, pada pandangan yang lebih positif.
Dalam cerpen “Kisah Singkat tentang Pekarangan”, sebuah kisah tentang roh yang bergentayangan pada gedung berwarna krem, yang memandanginya keluar-masuk kamar yang pernah dihuninya pada suasana mistis dan magis memberikan gambaran Korea (1990) telah menemukan fase dekonstruksi besar, pewacanaan baru tentang sastra baru yang dibawakan dengan gaya bahasa mengalir, jauh meninggalkan trauma dan kisah pedih tentang perang. Gerakan-gerakan baru bermunculan, namun tidak lagi terlalu terkait dengan nilai-nilai liberal, demokratis, dan pluralis. Munculnya spektrum yang lebih luas. Munculnya gelombang baru (yang juga merambat di negara tetangganya, China) yang mulai membuka diri terhadap investasi asing mempengaruhi pola pikir dan nilai-nilai yang masuk pada perubahan budaya, tak terkecuali Korea. Tidak ada lagi hal baku, sebab akibat ketegangan sosial (social strain) terhadap masalah-masalah sosial. Seperti pada cerpen “Pewarisan” karya Eun Hee Kyung lebih ditekankan pada hubungan dari dalam pribadi, antar manusia dengan manusia lainnya, dan kekeluargaan. “Masuk ke dalam kamar, dia tidak mudah menemukan ayahnya. Ketika Ibunya melambaikan tangan, baru dia tahu tempat ayahnya yang sakit terbaring. Ibunya kelihatan kurus sekali…” (Pewarisan: 261). Kemudian cerpen itu bercerita tentang posisinya dimata orang lain yang juga dalam ruang lingkup keluarganya. Misalnya si tokoh utama menganggap bahwa sepanjang jalan kehidupan memang tidak mudah dan jalan penghabisanpun begitu menyengsarakan. Mereka mulai berfikir tentang diri sendiri dimata dirinya dan individu lain. Ideologi-ideologi yang tidak baku tersebut membuat diskursi-diskursi budaya yang merupakan sebuah paradigma baru dalam ilmu-ilmu humaniora dan ilmu sosial, dua arus balik kedua arus sosiologis, yakni perubahan jangka panjang sebuah sejarah (seperti yang terlihat misalnya pada Model Proses Politik-nya Doug McAdam, 1987) dan paradigma interaksionis simbolis yang menekankan pemahaman dan cara-cara manusia berinteraksi satu sama lain. Terlihat aspek tersebut pada kedua cerpen ini, namun dalam ruang lingkup yang lebih sempit.
Pada kisah “Laut dan Kupu-Kupu” kisah tersebut tidak lagi memiliki deskripsi alam. Gaya penceritaannya dan gambaran tentang lata coba tidak lagi menggambarkan kekuatan realisme, melainkan peristiwa imajinatif yang melebihi realitas, terlihat pada “…mebel dan barang-barang yang ditinggalkan oleh pemilik rumah membuat saya merasa asing di dalamnya. Setiap masuk saya tidak menemukan ruang untuk duduk atau berdiri seolah terbawa sesuatu yang asing dan tidak tampak” (Laut dan Kupu-Kupu : 275). Yang lebih menarik lagi adalah penulis disana menceritakan latar yang bertabrakan, satu alur bisa tidak sejalan dengan yang lain. Kisahnya seperti melompat kesana kemari. Pola ini mewakili tantangan baru terhadap pola-pola sebelumnya, mengenai tren-tren terbaru pemikiran yang tidak terpenjarakan oleh kisah masa lalu. Kerangka-kerangka ini membentuk batas-batas bagaimana perubahan-perubahan diimpikan, juga dalam ideologi yang bercirikan radikal. Di Barat misalnya, kerangka Judeo-Kristen dengan gambaran apokaliptiknya, menyiapkan ruang bagi pandangan-pandangan yang lebih radikal mengenai perubahan-perubahan yang lebih revolusioner, mengenai konsep identitas kolektif dan tindakan kolektif.
“Laut dan Kupu-Kupu” yang menceritakan seorang istri yang mencintai dan merindukan suaminya dalam sebuah penantian mengalir begitu saja dari waktu ke waktu. Kisah yang mengalir begitu saja mengisahkan tentang sebuah kekacauan jalan pikiran tokoh (cemas dan rindu). Semua peristiwa itu bergelayut dalam sebuah kegalauan dan kebimbangan pikiran yang akhirnya berujung pada keputusan final yang tetap tidak dapat ditebak : kekalutan. Laut mungkin merepresentasikan petualangan, riak, kegalauan, perjalanan, dalam sebuah realitas yang selalu terombang ambing dalam suatu ketidakpastian. Sedangkan kupu-kupu menggambarkan keindahan dan harapan akan dunia yang baru, tanpa sebuah trauma masa lalu.
“Betulkah Saya Jerapah” karya Park Min Kyu dan “Menyebrangi Perbatasan” karya Jeon Sung Tae menumbuhkan imajinasi baru pada abad ke-21 selepas tahun 2000-an yang merupakan lompatan pikiran, bisa disebut dengan imajinasi liar sastrawan Korea kontemporer. Imajinasi baru mampu merakit kembali budaya hagemoni dalam bidang gaya hidup dan mode. “Kereta api dinihari rasanya sama dengan kereta api galaksi. Normalkah kalau saya katakan demikian? Walaupun disudutkan oleh orang-orang Venus, toh saya tetap menjawab demikian…” (Betulkah Saya Jerapah : 322) menggambarkan lompatan dunia pikiran penulis dalam masyarakat yang lebih imajinatif dibandingkan karya-karya periode sebelumnya. Dari sana, makin jauh saja kisah masa lalu perang Korea, tenggelam oleh kemajuan yang dicapai negeri itu.
Perubahan-perubahan yang terjadi selama periode ini dalam hubungannya dengan krisis-krisis yang dihadapi negara Ginseng menafsirkan krisis ini sebagai akibat dari proses-proses siklis jangka panjang yang meliputi perubahan-perubahan sosial, politik, dan ekonomis.
Pola yang menarik berulang selalu disuguhkan adalah sisi ketegaran dari para pelaku dalam cerpen-cerpen tersebut melukiskan adanya sebuah proses pengenalan tekanan internal, dan eksternal pada sosio-budaya yang kompleks dan harapan yang tetap ada dalam setiap jiwa keperiodean perkembangan Korea (1950-2000) yang semakin dewasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s