Belajar dari sebuah pemberian kecil…

255197975_c450016753.jpgAku cuma iseng, pengen jalan pagi, masih ba’da shubuhan sekitar jam 5 pagi. Sepi… Cuma terlihat sepasang kakek dan nenek di samping kosan. Nenek yang sedang mengipasi nasi yang digelar di nampan, dan seorang kakek yang menanam di kebun depan rumah, mungkin sedang menanam ubi jalar atau semacamnya.

Wajar sepi…, (kalau kebanyakan anak kosanmah menarik selimut kembali setelah sholat shubuh), tapi akhir-akhir ini aku berusaha untuk membuangnya, hem… bukan karena aku merasa tidak mengantuk, tapi mungkin sedikit tersugesti beberapa artikel yang kubaca tentang ‘efek negatif yang ditimbulkan kalau sering bangun siang’. Isinya macam-macam…

ada yang rada ilmiah seperti:

“Bangun siang bisa mengurangi sirkulasi sehat tubuh, karena udara pagi belum tercemar, masih murni hasil reaksi embun dan alam.”

lalu…

” Rosul selalu bangun pagi, meminum madu yang sudah diencerkan, dan memakan 2 buah kurma saat matahari sepenggalah… Karena itulah beliau selalu sehat dan Vit, walaupun banyak pertempuran yang dilaluinya.”

juga…

“Berusahalah untuk selalu bangun pagi, karena kau akan punya waktu yang lebih banyak untuk mempersiapkan harimu yang baru”

sampai ke artikel yang rada-rada ghoib…

” Tidurlah larut malam dan berdaganglah pagi-pagi sekali. Karena kau tahu, malaikat datang untuk membagikan hitungan rejekimu hari ini saat sinar matahari belum nampak”

Suatu pagi aku baru pulang dari kosannya teman, lagi gak pengen pulang siang, karena hari itu Mamah dan adek tersayang akan sampai di Bandung, Mamah pengen berobat, jadi harus siap-siap alias beres-beres. Ba’da shubuh aku langsung pulang, masih kulihat pemandangan dan aktivitas yang serupa, cuma bedanya sang Kakek sedang mengurusi Soang di kandangnya. Karena kita muslim, maka sudah sepantasnya untuk bersikap sopan ketika melewati orang. Biasanya bilang “Punteun…atau permisi…”

Nenek dan kakek yang jaraknya tidak begitu jauh dariku hanya mengangguk sebentar, lalu meneruskan aktivitasnya masing-masing.

Tiba saatnya keluargaku datang, senang sekali saat mereka dateng, lebih dari kangennya seorang anak pada keluarganya, tapi yang lebih peting akan banyak oleh-oleh yang datang, biaya hidup akan jadi lebih murah dan terjamin (selama beberapa hari). Yah, bukannya tidak sopan, tapi untuk seukuran mahasiswa tingkat empat yang masih kosan dan belum punya penghasilan sendiri, perbaikan gizi merupakan sesuatu yang patut dicermati hehe. Ternyata mamah bawa makanan khas palembang(tahu kan?yang kalo dimakan pake kuah),,tapi kuahnya tumpah dipesawat, mungkin sewaktu dimasukkan dalam bagasi dilempar begitu saja. Jadi aku disuruh untuk membeli kardus sebagai pengganti. Sewaktu mau pergi ke warung, mamah tiba-tiba menyodorkan kantong plastik, yang isinya secumpuk sambal lauk kering dan beberapa bungkus roti kering (agak lupa sih, karena kejadianya sudah agak lama).

Aku mengerenyit heran, “Memangnya mau dikasih kemana, Mah?”

” Itu, dikasih ke nenek yang ada di depan sana..”

“Memangnya mereka bakalan mau, Mah?”

“Iih, coba aja dulu, pasti seneng…”

Sambil mengerenyit tidak yakin(melihat kantong plastik yang kecil itu), aku memberikannya pada mereka. Aku tidak bertemu nenek, aku memberikannya pada kakek. Kakekpun berterimakasih, dan akupun pergi ke warung untuk membeli kardus.

——-

Singkat cerita, aku sudah lupa akan kejadian itu, karena setelah itu aku sibuk menjaga mamaku yang dirawat di Al-Islam. Jadi tidak sempat untuk cipika cipiki ama tetangga.

Pada suatu saat, saat aku ingin pulang (kelelahan karena kuliah), tiba-tiba nenek datang menghampiriku. Aku kaget, nggak biasa-biasanya, gt loh… Biasanya juga kalo aku lewat depan mereka, mereka cuek-cuek saja.

“Nu kamari masihkeun eta teh Neng?” (yang kemaren ngasih itu Neng?) fuhh Alhamdulillah agak ngerti bhs.Sunda, jd gak OOT

“Muhun bu…” (Iya, Bu) Jawabku

“Ooh, Nuhun atuh nya Neng…” sambil menghampiriku dan menggenggam tanganku… Aku tersenyum, agak gagap juga…

Tapi setelah itu tahukah kalian apa yang terjadi? Setiap aku lewat di depan mereka, mereka selalu menyambutku dengan wajah berseri-seri, menanyakan aku dari mana, dan bukan hanya itu, mereka malah sering mengajakku makan bersama-sama di tempatnya. Padahal sebelumnya sering aku bilang ‘permisi’ tapi kadang-kadang Nenek terlihat acuh. Sikap mereka berubah setelah aku memberikan satu kantong plastik kecil berisi kue dan lauk kering, yang mungkin menurut kita itu adalah pemberian kecil. Namun, hanya dengan sebuah pemberian kecil mengubah segalanya. Aku jadi ingat, Rosul pernah mengajarkan kita untuk saling memberi hadiah, karena dengan itu kita bisa saling dekat. Karena, mungkin dari pemberian itu terselip sebuah kata kebahagiaan yang tidak kita sangka. Hemm… mungkin aku sudah membuktikannya…

PS: Untuk teman-temanku diseluruh penjuru dunia, saatnya memberi kebahagiaan pada orang lain dengan sebuah hadiah mungil…^_^

One thought on “Belajar dari sebuah pemberian kecil…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s