Sebuah Realitas Interaksi

Kader, dalam proses pengokohan jati dirinya (untuk pembentukan karakter rabbani) memiliki kelemahan yang diakui oleh setiap diri maupun peninjau (murobbi) dakwah. Yaitu realitas mu’ayasah (interaksi). Interaksi merupakan dua sisi mata uang yang bisa melemahkan, sekaligus mengokohkan kader, karena dalam pembentukan karakter seorang kader memang diperlukan juga adanya infitrasi dan pengaruh dari luar (seorang kader perlu juga mendapakan pembelajaran dari luar, dengan konsep trial dan error). Menurutku hal ini sangat perlu diketahui seorang kader dakwah, terutama bagi kader yang tertarik pada bidang siyasi external.

Mu’ayasah itu meliputi:

– infiltrasi fiqroh, pengaruh fiqroh-fiqroh lain yang kerap membingungkan kader dakwah. Kader dakwah kerap bingung dengan hal ini dikarenakan lemahnya pemahaman. Sehingga ketika mereka belum punya pegangan yang cukup kuat, mereka tidak mampu menyaring pemikiran-pemikiran dari luar yang tidak sefikroh. Dalam hal ini, kita sudah punya Manhaj tugas baca, pegangan kader dalam melangkah dan mengenal furqan(pembeda pemikiran)…(makanya baca mantuba dulu ya baru baca buku yang lain,,, gak nanggung loh kalo ntar jadi bingung2 sendiri)

– melemahnya kualitas dan daya pengaruh kader pada organisasi dan lingkungan kader itu berada. Ketika kader tidak mampu menularkan dan membawa jati dirinya sebagai da’i untuk mencegah kemungkaran/ hal-hal yang sifatnya jahil dan tidak menimbulkan kemaslahatan, malah kemudhorotan. Ini juga sama, dikarenakan kader yang lemah pemahaman. Kadang kita menjumpai kader yang tidak tahu bahwa hal itu atau hal ini adalah kemaksiatan, disamping kader-kader yang memang tahu namun memiliki cara dan toleransi sendiri untuk mengingatkan orang yang berbuat kesalahan. Kalau sudah tidak tahu, bagaimana sebuah komunitas saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran akan terwujud? Kapan kita bisa masuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung?(Al-Ashr 1-4)- kualitas kader yang belum mampu menjawab realitas / tantangan, seorang kader yang sedang berproses belum mampu daya gugah yang kuat dan kualitas yang masih di bawah orang lain, dalam hal kepemimpinan dan pemecahan masalah. Ingat, kepemimpinan bukan hanya sekedar kita bisa mendelegasikan seseorang, namun juga terletak pada pemecahan masalah, yaitu bagaimana pemikiran-pemikiran dakwah yang kita tawarkan mampu menjawab dan menyelesaikan berbagai persoalan yang ada. Ini hanya bisa diperbaiki dengan semanga(ghiroh) kader tersebut untuk tetap meningkatkan kualitas dirinya.

– ruang komunikasi antara pemimpin dan bawahan (Qiyadah dan Jundi) yang tidak up- bottom, dan bottom-up. Saling berdiskusi dalam pemecahan masalah merupakan hal yang terbaik. Bukankah banyak kepala lebih baik dari 1 kepala?

– revolusi pemikiran, 6 Visi reformasi, hal yang mesti diketahui kader, terutama kader external, tentang wawasan kebangsaan dan untuk apa dakwah external itu ada. Sangat menyangkut pada 6 Visi reformasi :

1. Reformasi ke arah sistem yang demokratis ditandai dengan diakhirinya dwi fungsi ABRI yang melahirkan kekuatan tiranik.
2. Supremasi hukum dikedepankan di atas segala kepentingan dan kekuasaan. Simbol supremasi hukum adalah dengan diadilinya secara transparan Soeharto dan kroni.
3. Perubahan UUD 45 ke arah yang sesuai dengan kebutuhan jaman dan ini menjadi legitimasi konstitusional bagi reformasi.
4. Reformasi yang menghasilkan keadilan dan kesejahteraan merata hanya mungkin terwujud dalam otonomi daerah yang seluas-luasnya sehingga rakyat yang terzalimi bisa terpenuhi kebutuhannya.
5. Reformasi diikuti budaya demokrasi yang rasional dan egaliter.
Potensi tirani baru mulai dari senjata, uang, intelektual, mitos, massa, harus ditinggalkan.
6. Pengamanan sebagai konsekuensi reformasi harus diikuti pertanggungjawaban seluruh perangkat Orba dan pendukungnya sehingga secara moral, politik, Orba dan reinkarnasinya harus tanggung jawab.

– at least, banyak mekanisme(tata prosedur keorganisasian) yang sering menghambat proses. Yang perlu ditekankan adalah ketika kita melakukan tata prosedural, juga mempertimbangkan kasus yang insidental, jadi prosedural tersebut bisa fleksibel dalam kasus-kasus tertentu.

Kelemahan itu bukan sebuah hal yang fatal jika dibarengi sistem dan prosedur yang bisa menjaga dan memaintenancenya. Wallahu’alam

taken from: Musdalub, waktu ngabahas Manhaj 1427)

2 thoughts on “Sebuah Realitas Interaksi

  1. untuk point nomor 4, menurut saya harus disiapkan juga perangkat pendukung dan pengawasnya. Untuk perangkat pengawas, ini menjadi hal yang sangat penting karena tanpa pengawas, malahan akan menciptakan kegiatan KKN yang sangat kondusif ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s