Karakteristik Murobbi

Hari Ini aku bertemu dengan mereka kembali, dalam sebuah forum yang didalamnya terlihat banyak orang yang bersemangat, hmm… bukan yang pertama sih.. sudah berulang kali aku bertemu dengan mereka. Tapi aku tetap saja merasa baru bertemu dengan mereka, karena kau tahu? setiap bertemu dengan mereka aku selalu merasakan sebuah semangat baru (menurutku penting untuk tahu siapa yang bisa membangkitkan semangatmu, untuk bisa bertahan dari kondisi sulit..tidak selalu orang yang bisa mendengarkanmu, tapi orang-orang yang bisa memberimu sedikit lonjakan emosi positif saat kau bersama dengannya, walau hanya dengan bertemu dengannya…dan dalam pengembaraanku ini, orang-orang seperti itu baru hanya bisa kutemukan pada organisasi-organisasi Ilmu dan Amal).
Aku ingin jadi mereka, sekumpulan orang yang bisa kubilang..inspiratoris…

Materi dimulai, pembicaranya telat datang, tapi tidak merubah makna dari acara ini.
Pertanyaan pertama yang (menurutku) agak ‘berhasil’ membuat sebagian besar(terutama akhwat) terdiam adalah ketika ditanya “Apa itu murobbi?siapa yang pernah jadi murobbi?” haha… pada nunduk…wondering, kenapa bisa yah orang-orang ini ditundukkan hanya dengan pertanyaan itu, padahal kalau lagi demo di gedung sate paling kenceng banget tuh🙂, termasuk aku juga sih hehe…

Okey, Bab pendahuluan masuk pada profil madrasah kammi, aku diingatkan kembali tentang…pentingnya ukhuwah…taaruf, tafahum, dan takaful. Seorang murobbi sebelum melaksanakan “tugas”nya di lapangan harus bisa mengingatkan dirinya tentang hal ini. Disamping itu juga bisa….bekerja demi tercapainya kesamaan cara pandang, menghilangkan keretakan hubungan, melenyapkan perpecahan dan perselisihan yang tidak prinsipil, tentunya dengan cinta kasih dan kelembutan hati. Puff… sungguh luar biasa, lebih luar biasa lagi kalau aku bisa melakukan semuanya…

Bab kedua, aku baru dikejutkan pada pertanyaan diatas, tentang siapa diriku yang sebenarnya. Dalam tingkatanku dan teman2ku yang sekarang ini, aku disadarkan kembali, setiap orang yang mengaku dirinya Islam adalah da’i…setiap orang berhak menjadi..murobbi, yang mengingatkan adanya hal-hal yang salah menurut hukum Allah di muka Bumi. No matter what and No Matter Who…apapun kita sekarang, se ‘geblek’ (hehe) apapun kita, Allah masih tetap punya hak atas kita,, setidaknya mengingatkan teman(atau saudara kita yang lain) untuk bisa berbuat baik, menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin..

Bab ketiga adalah bab yang sulit, (ntar, mau minum dulu kayaknya baru nulis lagi hehe)
OK…Back to desktop…
Bab ini menceritakan tentang derajat kualitas seorang murobbi.
Murobbi(dalam hal ini dikhususkan pada murobbi KAMMI) harus memiliki kemauan untuk membentuk dirinya menjadi:
1. Memiliki standar minimal seorang murobi
2. Memahami orientasi kaderisasi kammi(itu loh, yang tercantum dalam visi dan misi KAMMI)
3. Seorang kader politik(atau paling tidak gak phobia ma yang namanya politik)
dan
4. Memiliki karakter seorang MUSLIM NEGARAWAN…

Muslim negarawan??? apakah itu????
well, kalau mau tahu … kutunggu aja yah temen-temen semua di KAMMI
Apa??? pengen minta bocoran???

Hem, baiklah, akan kuberitahu (ngeliat catatan dulu hehe)
Oks, karakter muslim negarawan,,, dimulai dari…:
– pengetahuan keislaman
– kredibilitas moral
– wawasan keindonesiaan
– kepakaran dan profesionalisme
– kepemimpinan dan
– diplomasi dan jaringan…

(sstt… ini hanya untuk kalangan terbatas loh hehe)
It means jangan tanya apa-apa lagi sebelum teman-teman masuk kammi hehe, atau kalau mau diskusi lebih jelas hubungi saja bagian kaderisasinya… gampang diakses kok…

Rosululloh berdakwah dengan caranya yang…”beda”… tapi yang terpenting adalah apapun metodenya(yang syar’i tentunya), tapi tujuannya tetap…menyeru manusia untuk menyembah hanya pada Nya, mencetak generasi-generasi taqwa..

…It means….jangan pernah merasa dirimu lebih baik (apalagi bagi yang merasa sudah punya binaan), cuma Allah yang berhak menentukan apakah kamu termasuk dalam kualifikasi murobbi-murobbi yang berkualitas itu…apalagi menganggap kita ‘berbeda’ dari mereka, dan aku kenal orang-orang yang pernah melontarkan kata itu…betapa tersingungnya orang yang merasa dilontarkan oleh kata-kata itu…membuat mereka semakin phobia dengan dakwah….
HEI, sadarkan lagi dirimu, jangan sampai kita termasuk golongan orang-orang yang riya…(Naudzubillah)..Jangan sampai kita malah menjadi beban-beban dakwah (Astaghfirullohaladzim…)

Salam hangat selalu dariku…
wassalam wr wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s