Kedudukan Niat Dalam Beramal

Niat merupakan amal hati secara murni. Suatu amal tidak akan sempurna amalnya jika tidak disertai niat yang ikhlas. Niat yang ikhlas berarti membersihkan maksud dan tujuan kepada Allah dari maksud lainnya, hanya mengkhususkan Allah sebagai tujuan utama kita. Hal ini dijelaskan dalam hadist diriwayatkan oleh Amir l’Mu’minin Abi Hafsh Umar ibn Al Khaththaab Radhiyallahu ‘Anhu, yang berbunyi :
“Sesungguhnay amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hakekat niat dalam beramal:
1. Niat merupakan bagian dari Iman.
Niat merupakan amalan hati. Sedangkan iman adalah diyakini di dalam hati, diucapkan dalam amal dan diuktikan dengan anggota badan dan perbuatan. Allah mencatat niat-niat baik kita dengan pahala yang sempurna meskipun amalan tersebut belum kita wujudkan. Seperti sabda Nabi saw. sebagai berikut :

“Maka barangsiapa yang bercita-cita hendak mengerjakan kebaikkan tetapi belum mengamalkannya, Allah mencatat bagi orang tersebut di sisi-Nya dengan kebaikkan yang sempurna.” (Muttafqun alaih)
2. Wajib mengetahui hukum dari sebuah amalan sebelum mengerjakannya.
Setiap muslim wajib mengetahui ilmu sebelum mengamalkannya, apakah amalan tersenut disyari’atkan atau tidak.
3. Disyaratkannya niat pada amalan-amalan keta’atan.
Suatu kebaikkan tidak dikatakan ibadah jika tidak disertai niat untuk beribadah. Niat membedakan amalan ibadah dengan kebiasaan atau yang bukan bersifat ibadah. Niat membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lain, misalnya puasa di bulan syawal. Bisa jadi dia puasa syawal bisa juga dia puasa membayar hutang puasa. Itu semua tergantung dari niat didalam hatinya. Niat juga menentukan tujuan dari sebuah amalan. Apakah perbuatan itu diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah atau mengaharapkan selain dari itu tentukan oleh niatnya.
4. Pentingnya ikhlas di dalam beramal.
Sebuah amal bergantung kepada keikhlasan pelakunya. Mengikhlaskan amalan semata-mata hanya karena Allah merupakan wujud mentauhidkan Allah. Ikhlas bukan hanya berarti tidak menuntut apa-apa dari Allah tapi merupakan sebuah tuntutan dan konsekuensi dari diciptakannya kita oleh Allah. Hendaknya kita senantiasa memperhatikan gerak hati kita, karena keikhlasan kita senantiasa diuji. Pertama: sebelum beramal perhatikan niatnya, kepada siapa dank arena apa kita niatkan amal kita. Kedua: ketika sedang beramal, bisa jadiamalan yang semula ikhlas terganggu disebabkan ada kejadian-kejadian khusus dan tak terduga. Ketiga: ketika setelah beramal. Tanpa sadar setelah mungkin bertahun-tahun kita semunyikan, tiba-tiba dalam sebuah obrolan kita ceritakan jasa kita dulu.
5. Baik buruknya amal bergantung kepada niat pelakunya.
Sebuah amal kebaikkan akan menjadi ibadah yang diterima manakala diniatkan dengan niat yang baik, berupa keikhlasan, Dan akan menjadi buruk manakala diniatkan dengan niat buruk, berupa ksyirikan -baik kecil apalagi besar-. Akan tetapi seseorang tidak boleh menghalalkan yang haram semata-mata dengan alasan baiknya niat.
Beberapa urgensi niat yang ikhlas :
1. Merupakan ruhnya amal
Allah hanya menginginkan hakekat amal bukan rupa dan bentuknya.
2. Salah satu syarat diterimanya amal
3. penentuan nilai/kualitas suatu amal. Suatu amal dapat dibedakan pahalanya berdasakan perbedaan niatnya.
4. Dapat merubah amal-amal yang mubah dan tradisi menjadi ibadah. Pekerjaan mencari rezki bisa menjadi ibadah dan jihad fi sabilillah selagi pekerjaan itu dimaksudkan untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang haram dan mencari yang halal.
5. Mendatangkan berkah dan pahala dari Allah, bahkan sebelum ia melaksanakan amalnya.
Cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas :
1. Senantiasa meluruskan niat sebelum mulai beramal.
2. Menyerahkan segala cintanya hanya kepada Allah, Rasul dan akhirat
3. Ilmu ikhlas yang mantap
4. Berteman dengan orang-orang yang ikhlas
5. Membaca sirah orang-orang yang Mushlih
6. Mujahadah terhadap nafsu, maksudnya mengarahkan kehendak untuk memerangi nafsu yang menjurus kepada keburukan.
7. Berdo’a dan memohon kepada Allah
Bukti penguat ikhlas :
1. Takut ketenaran, ketenaran tidak tercela tapi yang tercela itu adalah mencari ketenaran.
2. Menuduh diri sendiri, orang yang mukhlis senantiasa menuduh diri sendiri sebagai orang yang berlebih-lebihan di sisi Allah dan kurang dalam melaksanakan berbagai kewajiban.
3. Beramal secara diam-diam jauh dari sorotan
4. Tidak menuntun pujian dan tidak terkecoh oleh pujian.
5. Tidak kikir pujian terhadap orang yang memang harus dipuji.
6. Berbuat selaknya dalam memimpin, dia tidak ambisi dan menuntut kedudukan untuk kepentingan dirinya sendiri.
7. Mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.
8. Menjadikan keridhaan dan kemarahan karena Allah, bukan karena pertimbangan pribadi.
9. Sabar sepanjang jalan
10. Rakus terhadap amal yang bermanfaat
11. Menghindari ujub, merasa puas terhadap apa yang dilakukan.

Referensi:
Dr. Yusuf Qardhawi : Niat dan Ikhlas

4 thoughts on “Kedudukan Niat Dalam Beramal

  1. Fi mO ty, .misal seseorang bersodaqoh, niatnya ikhlas cuma ingin membantu orang yg kesusahan.,Nah niat seprti itU benar gk?trs yg dimksud mlakukan amalan tnpa niat itu gmN Contohnya?mksh. ,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s